Karqun’s padalarang 2009 Blog
Just another WordPress.com weblog

Mar
18

Kehidupan dunia ini adalah sementara, sedangkan akhirat selama-lamanya.bersabar dalam penderitaan di dunia akan menambah kemuliaan di sisi Allah SWT.Hawa nafsu dan cinta dunia perlulah kita waspadai , jangan sampai menjerumuskan kita ke lembah kehinaan, apa yang dirasakan didunia ini akan terasa,sakit dapat dirasakan, susah dapat dirasakan, miskin dapat dirasakan,kaya dapat dirasakan, senang dapat dirasakan,tapi ada yang mungkin tidak terasa, yaitu tipuan dunia,bagi yang tidak mempunyai bashiroh(mata hati) yang tajam akan tertipu apalagi jika hanya mengandalkan bashor(penglihatan mata) saja.Perlunya kita perhatikan hati dan ‘amalan kita lebih banyak ‘amal agama atau ‘amal yang menjauhkan kita dari agama Allah SWT. sedih rasanya apabila Allah SWT tidak akui kita umat Rasulullah SAW. Rasulullah pun akan bertambah sedih apabila melihat ‘amalan kita umat muslim saat ini. Kalau saya sendiri sedih mungkin biasa saja, tapi apakah kita sanggup melihat Rasulullah SAW menjadi sedih.

MAKSUD HIDUP UMAT AKHIR ZAMAN

Sebuah benda jika tidak digunakan sesuai dengan maksud yang menciptakannya, maka benda ini tidak berguna dan lama-lama akan rusak. Begitu juga manusia, tidak ada gunanya dan akan rusak jika tidak sesuai dengan maksud penciptaannya. Yang mengetahui maksud hidup manusia, bukanlah isterinya, anaknya, ayahnya, pemerintahnya dsb. Mengapa ? karena mereka tidak mempunyai andil dalam penciptaan manusia.

Maksud hidup manusia adalah

1. Manusia diciptakan untuk ibadah

Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, melainkan (hanya untuk) beribadah.” (QS. Adz Dzariyat : 56 )

2. Manusia untuk menjadi khalifah

“Sesungguhnya Aku akan menjadikan di muka bumi ini khalifah (manusia)” (QS. Al Baqarah : 30 )

3. Manusia untuk ber’amar ma’ruf nahi mungkar dan sebagai naibnya Rasulullah SAW

“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia, yaitu untuk ber’amar ma’ruf dan nahi mungkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran : 110)

Jika manusia berhasil mewujudkan maksud hidupnya, maka akan dijadikan raja-raja di Jannah/Surga. “Jika kamu melihat Jannah seolah-olah adalah kenikmatan dan kerajaan yang besar” (QS. Al Insan: 20).

Keperluan hidup manusia adalah :

1. Makan Minum

2. Rumah

3. Kendaraan

4. Pakaian

5. Pernikahan

Para sahabat Nabi keperluannya rendah tetapi maksud hidup tinggi. Sementara kita memiliki keperluan tinggi tetapi maksud hidupnya rendah. Keseharian kita hanya memikirkan bagaimana mendapatkan keperluan, tetapi para sahabat berpikir untuk selalu mengorbankan keperluan untuk mendapatkan maksud hidup.

Perbedaan orang beriman dengan orang kafir dalam menggunakan keperluan dan maksud hidup adalah :

1. MAKAN MINUM

Orang kafir : Makan dan minum untuk kesehatan dan kekuatan sebagaimana kaum A’ad sehingga mereka berkata :“Siapakah yang lebih kuat daripada Kami …?”(QS. Fushsihlat: 15)

Orang beriman : Makan Minum untuk beribadah agar bisa berdiri shalat dan mengerjakan ibadah lainnya. Jika makan dengan cara adab sunnah Rasulullah SAW maka akan diberi pahala oleh Allah SWT.

Makan Minum untuk Khalifah adalah agar bisa berkhidmat kepada sesama. Nabi SAW bersabda, “jika kalian mengangkat beban saudaramu ke punggung kudanya, maka akan dihitung sedekah, jika kalian mengisi ember saudaramu dengan air maka dihitung sedekah”

Makan Minum untuk dakwah, suatu jamaah diantar ke suatu rumah di Pakistan maka dihidangkan kepadanya air yang rasanya asin. Karena jamaah berniat dakwah maka Amir(sebutan untuk pemimpin jamaah) mengatakan, “Habiskan air asin tadi”.

Setelah jamaah pulang isteri pemilik rumah terlihat pucat, suaminya bertanya, “ada apa?”

Isterinya berkata,”Aku salah memasukkan gula ternyata aku memasukkan garam ke air minum mereka, bagaimana keadaan mereka?”

Suaminya berkata.”Tidak masalah, mereka biasa saja bahkan tampak senang.”

Isterinya berkata,”kalau begitu bapak harus ikut mereka karena mereka bukan orang biasa tetapi seperti malaikat yang berjalan-jalan di bumi.”

2. PAKAIAN

Orang kafir : Tujuan menggunakan pakaiannya seperti burung merak yaitu untuk menarik lawan jenis dan untuk dipuji-puji.

Orang beriman : Untuk Ibadah yaitu menutup aurat karena malu kepada Allah.

Untuk Khalifah yaitu untuk melayani umat sebagaimana kisah Hasan r.a cucu Nabi SAW. Beliau memakai pakaian mahal sehingga seorang Yahudi datang kepadanya dan berkata, “Ya Hasan, benarkah engkau cucu Rasulullah ?”

Hasan r.a. menjawab,”Ya, Kenapa ?”

Kata si Yahudi, “mengapa engkau menyelisihi kakekmu dengan berpakaian mewah padahal dunia adalah penjara bagimu dan surga bagi orang kafir?”. Si Yahudi melanjutkan, “kini kau lihat, aku berpakaian compang camping sementara kamu seperti di Surga?”

Hasan r.a. berkata,”Wahai Yahudi, seandainya kamu tahu pakaian apa yang akan kamu dapatkan di neraka, niscaya kamu akan memakai pakaian paling mewah di dunia ini karena tak merasakan lagi di akhirat. Aku memakai pakaian bagus ini agar orang miskin tahu kalau aku orang kaya agar mereka tak sungkan-sungkan meminta sedekah kepadaku.”

Untuk Dakwah, dengan pakaian yang digunakan orang akan mendapat hidayah dan ingat kepada Allah. Itulah sebabnya orang beriman mencontoh pakaian Rasulullah SAW dan para sahabat.

3. RUMAH

Orang kafir : Rumah untuk kesombongan dan fungsinya hanya untuk restoran (untuk tempat makan keluarga), hotel (tempat tidur/istirahat) , WC (tempat buang air), gallery (tempat menyimpan barang-barang mewah), bioskop mini (tempat nonton TV keluarga), gedung pertemuan keluarga.

Orang beriman: Untuk ibadah, Nabi SAW bersabda,”Shalatlah kamu (shalat sunnah) di sudut-sudut rumah kamu niscaya rumah kamu akan dipandang oleh penduduk langit bercahaya sebagimana kamu memandang bintang-bintang di langit.”

Untuk Khalifah, yaitu melayani ummat sebagaimana hadits yang menunjukkan bahwa hak tamu untuk dilayani adalah tiga hari, setelah hari ketiga maka dihitung sedekah.

Untuk Dakwah, yaitu bagaimana orang masuk ke rumah kita mendapat hidayah sebagaimana rumahnya Fatimah binti Khaththab. Umar bin Khaththab masuk ke rumahnya langsung mendapat hidayah, mengapa ? karena di dalam rumah hidup amalan masjid yaitu dakwah, ta’lim, ibadah dan khidmat.

4. KENDARAAN

Orang kafir : Menggunakan kendaraan hanya untuk menyelesaikan urusan dunia saja, juga sebagai kesombongan dan status sosial.

Orang beriman : Untuk Ibadah, seperti dipakai untuk pergi ke Masjid, silahturahmi dll.

Untuk Khalifah, yaitu untuk melayani saudara muslimnya, dipinjamkan untuk hajat muslimin

Untuk Dakwah, yaitu untuk berjuang di Jalan Allah. Nabi SAW bersabda, “seseorang yang memelihara kuda untuk digunakan jihad maka semua makanan, kotoran dan kencingnya dihitung sebagai kebaikan oleh Allah SWT”

Nabi SAW juga bersabda,”ada tiga hasil orang memiliki kendaraan, yaitu (1) orang yang mendapatkan Surga dari kendaraannya karena digunakan di jalan Allah SWT. (2) mendapat neraka karena dipakai untuk bermaksiat kepada Allah. (3) tidak memperoleh apa-apa di Akhirat karena hanya digunakan untuk keperluan dunia semata.”

5. PERNIKAHAN

Orang kafir : Pernikahan mereka hanya untuk menyempurnakan nafsu saja dan mendapatkan keturunan.

Orang beriman : Untuk Ibadah, sesuai sabda Nabi SAW, “orang yang sudah menikah shalat 2 rakaatnya lebih baik dari pada 70 rakaat orang yang belum menikah.

Untuk Khalifah, yaitu dengan memiliki isteri kita bisa berkhidmat kepada tetangga sebagaimana hadis,”jika kamu masak, perbanyaklah kuahnya dan kirimkan kepada tetangga kamu.”

Untuk Dakwah, yaitu wanita/isteri dapat berdakwah sampai ke dapur-dapur tetangga kita, sedangkan laki-laki hanya sampai depan pintu saja. Kewajiban dakwah termasuk untuk wanita. Do’a-do’a wanita dalam dakwah sangatlah hebat melebihi do’a 70 wali Allah.

Mar
18

Maulana ilyas rah.a berkata “Musyawarah adalah perkara yang besar.Allah Swt berjanji apabila kalian duduk ber Musyawarah dan bertawakal kepada Allah Swt ,maka sebelum kalian berdiri ,kalian akan mendapat taufik ke jalan yang lurus.”

Musyawarah adalah azas dari usaha dakwah ini yang akan menjadi ruh dalam setiap pengorbanan.pengorbanan tanpa Musyawarah akan sia-sia.tanpa Musyawarah maka ijtima “iyyat kerja akan hilang dan pertolongan Allah Swt.Akan menjauh,karena nusralullah akan datang melalui kebersamaan umat ini.

Musyawarah adalah pengganti turunyya wahyu yang tidak akan turun lagi ,usaha ini tidak mengharap bantuan dari dunia tetepi semata-mata hanya pertolongan dari Allah Swt.Dengan Musyawarah kesatuan hati akan terwujud dan akan meningkatkan pikir.

Ijima iyyat bukan berkumpulnya sekelompok orang,tetapi adanya kesatuan hati,pikir,dan gerak sebagai mana dalam shalat berjamaah.ketika shalat seluruh jamaah satu hati (tawajuh),satu pikir (khusyu) dan satu gerak dan ini akan terwujud jika memiliki sipat itsar (mengutamakan orang lain daripada diri sendiri) dan tawadhu (merasa orng lain lebih baik daripada diri sendiri).

Maulana I”namul rah a berkata :

- Musyawarah adalah berkumpul ,berpikir dan mentaaati keputusan.seluruh anbiya a.s biasa duduk dan berpikir.Rasullullah Saw masuk ke gua hira duduk berpikir dan menerima wahyu.dimana ada kerisauan disitu ada petunjuk Allah Swt.

- Karena seekor ayam mau mujahadah duduk mengerami telurnya maka telurnya pun mendapat ruh dan hidup sehingga jika kita mau duduk dalam Musyawarah maka Allah Swt akan bukakan jalan pemecahan.

- Sebelum waktu Musyawarah diadakan para ahli musyawarah banyak berdoa dan menangis agar Allah Swt memberikan keputusan terbaik dan tetap tawajjuh dalam Musyawarah.apabila di dalam Musyawarah terjadi kerusakan ini maka keruakan ini akan akan wujud ke seluruh alam.

- Kerja ini adalah kerja Nabi Rasullullah Saw tidak bekerja sendirian tetapi bekerjasama dengan para sahabat r.a sehingga mereka semua mendapat tarbiyah dari Allah Swt maka betulkan niat hanya mencari keridhaanNya agar Allah Swt memberi tarbiyah yang sama.

- sasaran Musyawarah adalah bagaimana agar setiap usulan dengan mudah dan senang hati diterima oleh Musyawirin.setiap usul dan keputusan harus jelas terbentang di hadapan seluruh ahli Musyawarah agar tidak terjadi perpecahan dan selama hal itu merupakan yang terbaik untuk umat.

- Tidak menyimpan prasangka dalam Musyawarah , seluruhnya harus di bentangkan dan di ajukan. Bila banyak usulan yang muncul berarti pikir jamaah bertambah.

- Setan selalu berusaha menggoda manusia begitu pun dalam Musyawarah.Setan selalu menggoda untuk memberi usul dengan paksa.Setan brusaha agar kita memandang remeh usulan yang lain dan berusaha agar kita tidak ikhlas menerima keputusan

Musyawarah.

- Adapun usul yang muncul harus di tanggapi dengan hati lapang, bila tidak akan demikian orang tidak akan menganggap penting duduk dalam Musyawarah.

- Tidak memotong , meremehkan dan menertawakan usul orang lain.Rasullullah Saw berkata kepada Abu Bakar r.a”anggaplah diri kita hina pada setiap mengajukan usul seseorang jangan membicarakan keburukan susul seseorang di belakangnya.bertambah takutlah kepada Allah.bila usul di terima sebaliknya apabila usul tidak diterima bolleh merasa lega”.perbanyaklah bersyukur sepanjang Musyawarah jangan ada maksud yang lain ketika memberikan usul. Kemukakan lah usul semata-mata untuk kepentingan dien.maka Allah Swt akan menjadikan Musyawarah sebagai asbab tarbiyah bagi diri kita sendiri.

- Berpikirlah dengan sungguh –sungguh cari kecocokan antara tugas dan pelaksanaanya.jangan sampai orang diberi tugas merasa terbebani. Berikan usul yang terbaik,singkat,jelas dan mampu di amalkan.

ADAB – ADAB DALAM MUSYAWARAH

Musyawarah di pimpin oleh seorang amir , sebaiknya amir shaf.sebelum musyawarah ,hendaknya amir mengosongkan hati dan pikirannya dadari rencana yang mungkin akan di putuskan dalam musyawarah.

Musyawarah diawali dengan Basmalah , Hamdalah , Hendaknya masing – masing berdoa : “allahumma alhimna mara sida umurina wa adidna ming syururi angfusina wa ming syayiati a maalina”. Artinya : “ Ya Allah berilah kami petunjuk ( ilham ) apa yang menjadi urusan kami dan kami berlindung dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan orang lain”.

Zihin singkat untuk membentuk pikir para musyawirin tentang arti , maksud dan tujuan musyawarah.Timbulnya Jazbah pada setiap ahli musyawarah sehingga tidak ada yang merasa di perintah.

Musyawirin menyampaikan Kargozari ( Laporan kegiatan program yang telah di lakukan ).

Amir musyawarah meminta usul – usul mulai dari sebelah kanan ke sebelah kiri .Mengajukan usul usul yang terbaik dan setelah usul disampaikan , anggaplah usul orang lain yang terbaik.

Apabila usul kita di terima segera ber istigfar , sebab mungkin saja usul itu mendatangkan mudharat bagi orang lain ,sebaliknya jika usulan kita di tolak maka ucapkan Alhamdulillah.

Tidak memotong pembicaraan ( interupsi ),tunggulah orang lain selesai bicara dan tidak boleh menguatkan pendapat orang lain.

Keputusan bukanlah pada suara yang terbanyak. Kebenaran hanya pada Allah dan Rasul-Nya.hendaknya keputusan sesuai dengan laporan ( kargozari ) atau data yang ada.

Tidak mengajkan diri sendiri dalam suatu tugas , kecuali tugas Khidmat dan Mutakallim.

Apabila keputusan telah di tetapkan ,maka ini adalah suatu amanah dari Allah SWT dan siap melaksanakannya ( sami”na wa athana ). Menerima keputusan musyawarah sebagai hadiah bukan sebagai beban.

Apabila dari hasil musyawarah terjadi hal yang tidak diinginkan maka janganlah berandai – andai.hal ini akan menimbulkan peluang syetan untuk memecah hati kita.

Perbedaan pendapat dalam musyawarah adalah rahmat tetapi beda pendapat di luar musyawarah adalah Laknat.

Insya Allah Siap Amal………..          (dre)

Mar
18

· Makanan dan minuman bersumber dari yang Halal dan cara mendapatkannya juga Halal.

· Makruh mencicipi makanan yang berbau kurang sedap.

· Niat makan buat untuk mengenyangkan perut tetapi agar kuat beribadah.

· Tidak makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang.

· Tidak berlebih-lebihan (isyraf) dalam makan dan minum.

· Segera makan jika dipersilahkan sehingga orang yang mengajak makan tidak berulang-ulang memanggil.

· Berwudhu,menutup kepala dan makan dengan berjamaah.

· Mencuci tangan dengan air yang mengalir agar kotoran dan kuman-kuman akan jatuh bersama air.

· Gunakan alas (Suprah)agar makanan yang jatuh bias diambil kembali.

· Disunnahkan untuk menunggu makanan, apabila makanan tekah tiba maka berdoa :”allahumma bariklanapiima rojaqtanaa wa kiqinaa adzabannar”

· Duduk pada lantai dan tidak bersandar dengan cara pada kaki kiri dan lutut di tegakkan agar perut terlipat menjadi 3 bagian : sepertiga bagian untuk makanan, sepertiga bagian untuk air dan sepertiga bagian untuk udara.

· Tidak mencium makanan dan meniup makanan yang masih panas tunggu hingga layak untuk di santap.

· Makan dan minum dengan menggunakan tangan kanan.

· Sebelum makan di sunnahkan mencicipi garam dengan jari manis.

· Makan diawali dengan ucapan :”Bismillahi wa alaa barakatillah”.

· Jika aada buah-buahan dianjurkan mencicipi terlebih dahulu dengan doa : “Allahumma bariklana pii syamarina”.

· Apabila kita lupa berdoa sebelum makan dan teringat ketika makan maka ucapkanlah :”Bismillahi awalahuu wa akhiro”.

· Disunnahkan dengan tiga jari (tiga suapan pertama) dan seterusnya boleh dengan lima jari.

· Disunnahkan memuji makanan.

· Meminum air putih diawali dengan tiga kali tegukan.Pada setiap tegukan diawali dengan Basmalah dan di akhiri dengan hamdalahselanjutnya boleh dengan sekali tegguk.

· Hindari minum pada gelas atau suatu yang bibir gelasnya pecah atau retak dengan meletakkan mulut pada tempat yang pecah itu.

· Tidak menggunakan wadah makanan dan minuman yang terbuat dari emas dan perak.

· Dibolehkan minum susu dengan sekali teguk.

· Di sunnahkan berkumur-kumur sesudah minum susu.

· Di perbolehkan meminum air Zam-Zam dengan berdiri.

· Mendoakan orang yang memberi makanan atau minuman.

· Makanan yang pernah di makan oleh Nabi Saw adalah : semangka, labu, kurma, manisan, tepung roti/roti gandum, bekatul, anggur, ketimun, daging unta, daging kambing, daging ayam, daging kelinci, daging burung khubara, belalang, susu murni, madu, air tepung gandum dan air rendaman kurma.

Mar
17
Mar
16

Ikrar bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi selain Allah adalah kewajiban pertama setiap orang. Maknanya, sebelum mengikrarkan hal ini, apa pun yang dikerjakan oleh seseorang tidak ada nilainya di sisi Allah, meski ia bersedekah emas sebesar gunung Uhud. Ikrar inilah yang menjadi pembeda antara seorang muslim dengan seorang kafir.

Rasulullah saw. bersabda:
“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’, maka siapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ terjagalah dariku harta dan jiwanya kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya itu urusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan ikrar itu pula kewajiban yang terakhir. Maknanya, saat seseorang dijemput maut, hatinya mesti dalam keadaan mengikrarkan hal ini. Jika demikian halnya ia akan mendapatkan kebahagiaan abadi, sedangkan jika sebaliknya yang didapatkannya adalah api yang menyala selama-lamanya.

Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang akhir ucapannya (sebelum mati) adalah ‘Laa ilaaha illallaah’ niscaya masuk surga.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Kunci Bergerigi

Ketika menjelaskan perihal hadits di atas, Imam Bukhari menyitir pernyataan Wahab bin Munabbih (34-110 H), seorang tabi’in, saat ditanya tentang ungkapan ‘Laa ilaaha illallaah’ adalah kunci surga. Wahab bin Munabbih tidak menampik pendapat itu. Beliau membenarkannya dengan memberikan catatan.

Katanya:
“Setiap kunci pastilah bergerigi khusus. Maka jika kamu membawa kunci dengan gerigi yang tepat, pintu pun terbuka untukmu, sedangkan jika gerigi kuncimu tidak tepat pintu pun tak akan terbuka.”

Berangkat dari pernyataan Wahab bin Munabbih inilah para ulama menjelaskan bahwa gerigi yang dimiliki oleh kunci surga ‘Laa ilaaha illallaah’ ada tujuh. Jika diri kita memilikinya dengan tepat, pintu surga terbuka untuk kita. Ketujuh gerigi itu adalah:

1. Ilmu

Seorang yang mengikrarkan ‘Laa ilaaha illallaah’ mestilah mengerti makna dan konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ yang diucapkannya. Tanpa diikuti pemahaman dan ilmu yang benar tentang makna dan konsekuensinya, ikrar seseorang takkan bermakna. Apalah makna ucapan seorang yang mabuk yang hanya memahami sebagian dari ucapannya? Atau ucapan orang tidur, bermimpi, dan ‘ngelindur’?

Allah berfirman:
“Ketahuilah bahwa tiada ilah (yang haq) selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)

Rasulullah saw. juga bersabda:
“Barangsiapa mati sementara ia mengerti bahwa tidak ada ilah (yang haq) selain Allah, niscaya masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Yakin

Setelah mengilmui dan mengetahui makna yang terkandung dalam kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ supaya ikrarnya diterima Allah, seseorang mestilah yakin akan hal itu. Keyakinan yang tidak disertai keraguan sedikitpun.

Al-Qurthubi menyatakan:
“Pelafalan dua kalimat syahadat saja tidaklah cukup (sebagai syarat masuk surga); harus ada keyakinan hati.”

Pernyataan beliau sesuai dengan firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yan benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)

3. Menerima

Karena keimanan seseorang tidak berhenti pada keyakinan, maka apa pun yang ditunjukkan dan menjadi konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ harus diterima. Menolak satu perkara saja sama dengan menolak keseluruhannya. Yang demikian itu karena apa-apa yang ditunjukkan dan menjadi konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ adalah satu kesatuan yang jika dipisah-pisahkan menjadi tidak berarti.

Jika perkara yang ditunjukkan dan menjadi konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ berupa kabar maka wujud penerimaan kita adalah meyakini kebenarannya; jika itu sudah terjadi kita yakin bahwa itu sudah terjadi, dan jika itu belum terjadi kita pun mesti yakin bahwa itu pasti terjadi. Adapun jika perkara yang ditunjukkan dan menjadi konsekuensi kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ berupa perintah atau larangan maka kita tidak boleh meyakini kebalikannya. Yang wajib adalah yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya; yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya juga.

4. Patuh

Yang dimaksud patuh di sini adalah pangkal kepatuhan atau iradah (kehendak) hati. Maksudnya: saat menghadapi ayat-ayat perintah atau larangan, tidak boleh terdetik di hati kita keengganan atau kesombongan untuk melaksanakannya. Bukankah Iblis dilaknat dan dicap kafir karena enggan dan sombong?

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu (Nabi Muhammad saw.) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa orang yang tidak melaksanakan perintah atau melanggar larangan belum tentu ia enggan dan sombong terhadap perintah atau larangan itu. Bisa jadi ia lalai, tidak sengaja, atau terpedaya oleh tipuan setan seperti halnya Adam yang mendekati pohon ‘terlarang’. Dan Adam tidak dilaknat dan tidak dicap kafir oleh Allah karena pelanggaran yang dilakukannya itu.

5. Sebenar-benarnya

Maksud sebenar-benarnya (shidiq) di sini adalah tidak menipu Allah (baca: menipu diri sendiri) dan tidak bermain-main dalam mengucapkan kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’. Ibnu Rajab Al-Hambali menyatakan bahwa orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ lalu ia mentaati setan dan hawa nafsunya dalam bermaksiat kepada Allah dan menyelisihinya, sama saja ia telah bermain-main dengan ucapannya. Perbuatannya mendustai ucapannya.

Allah berfirman:
“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 8-9)

6. Ikhlas

Ikhlas artinya memurnikan setiap perkataan dan perbuatan hanya karena Allah. Maknanya, apa pun perkataan dan perbuatan yang menjadi konsekuensi dari kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ mesti dihadirkan karena Allah, bukan selain-Nya. Yang demikian itu karena suatu perkataan atau perbuatan tidak akan diterima oleh Allah jika diikuti dengan riya’ atau sum’ah.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah swt. berfirman:
“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan hal mana ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku dalam amalan itu, niscaya aku tinggalkan ia dan sekutunya.” (HR. Muslim)

7. Cinta

Yang dimaksud cinta di sini adalah mencintai kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’, semua konsekuensinya, dan mencintai orang-orang yang komitmen kepadanya. Kemudian membenci dan memusuhi apa saja yang bertentangan dengan kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’. Begitu pun dengan orang-orang yang menentangnya.

Allah berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Mengertikah Para Sahabat?

Kadang muncul pertanyaan, apakah para sahabat dulu juga mengerti bahwa gerigi kunci ini ada tujuh? Bagi yang mengerti bagaimana kodifikasi suatu ilmu itu hadir mestinya tidak kesulitan menjawab pertanyaan ini. Sebab, adanya para ulama menyatakan bahwa gerigi kunci ini ada tujuh adalah karena mereka mengkaji bagaimana kehidupan para sahabat; dan mereka mendapati bahwa meski para sahabat tidak tahu gerigi yang tujuh itu tetapi kehidupan mereka mencerminkan bahwa ketujuh gerigi itu sudah mendarah daging dengan mereka.

Mar
16

Ada baiknya kita meniru adab makan Rasululloh SAW, karena selaku manusia terbaik yang pernah diciptakan ALLOH SWT, tentu perilaku beliau tidak terlepas dari segala kebaikan.

Berikut adalah adab makan Rasululloh SAW:

* Rasulullah SAW menyukai dlafaf – makanan yang banyak tangan memakannya
* Membaca doa yang bermaksud :- ‘Dengan nama Allah, Ya Allah Ya Tuhanku, jadikanlah hidangan ini nikmat yang disyukuri yang sampai nikmat syurga ke atas nya.’

* Makan cara hamba – semasa duduk makan, baginda merapatkan antara kedua lututnya dan antara kedua tapak kakinya – tapak kaki kanan di atas tapak kaki kiri.
* Tidak memakan makanan yang sangat panas karena tidak (ada) berkah (diumpamakan memakan api).

* Tidak makan dengan dua anak jari karena cara demikian adalah cara makan syaitan.
* Menyukai kueh faludzaj – ramuan – minyak samin, madu lebah, tepung gandum.

* Menyukai roti syair, mentimun dan ruthab (kurma yang belum kering) ditambah dengan garam.
* Menyukai anggur dan semangka dimakan bersama roti dan gula atau ruthab.

* Makan ruthab dengan tangan kanan dan biji di tangan kiri baginda diberi makan kepada kambing yang lalu lalang di tempat baginda makan.
* Makan anggur dengan memegang tangkainya sehingga air anggur kelihatang pada janggutnya seperti benang mutiara.

* Menyukai susu dengan tamar (al-athyabin – dua yang terbaik)
* Menggemari daging – penghulu makanan di dunia dan di akhirat – khasiat menguatkan pendengaran.

* Menyukai roti berkuah dengan daging dan buah labu dan bersabda bahwa labu itu adalah pohon Nabi Allah Yunus a.s. Pernah menyarankan Aisyah ra memasak gulai dengan membanyakkan labu – akan menguatkan hati orang yang berduka ***untuk yang ini, saya belum temukan hadits mengenai makan labu***
* Menyukai daging burung (tetapi tidak pula ikut menangkap burung).

* Tidak menundukkan kepala saat makan daging burung tetapi mengangkatkan daging ke mulutnya dan menggigitnya.
* Menyukai roti dengan minyak samin.

* Menggemari daging kambing – bagian lengan dan bahu, Kurma madinah (al-ajwah – berasal dari syurga) – penawar racun dan sihir – adalah antara yang paling digemari di kalangan tamar.
* Sayur-sayuran yang digemari baginda pula adalah al-handaba, al-badzaruj dan al-hamqa’/ar-rajlah.

* Tidak menyukai bagian daging spt. buah pinggang, zakar dan biji zakar, ghudad, darah, empedu dll. ***ini berarti Rasululloh SAW tidak suka jeroan…***
* Tidak menyukai bawang putih, bawang merah dan daun bawang prei (al-kurrats) .

* Tidak pernah mencela makanan – kalau disukai, dimakan – kalau tidak disukai, ditinggalkan.
* Tidak menggemari dhab.

* Suka menghabiskan sisa makanan dengan anak jarinya – makanan yang penghabisan banyak barakahnya.
* Menjilat sisa makanan pada anak jari – yang tidak diketahui makanan mana yang paling berkat.

* Tidak menyapu dengan sapu tangan.
* Selesai makan – dibaca ‘Segala puji-pujian bagi Allah. Ya Allah Ya Tuhanku, bagiMu segala pujian. Engkau anugerahkan makanan, maka Engkau anugerahkan kekenyangan. Engkau anugerahkan kepuasan (kehilangan haus). Bagi Engkau segala pujian yang tidak dimungkiri keutamaannya, yang tidak ditinggalkan dan yang diperlukan kepadanya’

* Membasuh tangan dan menyapu sisa air ke muka.
* Minum dengan tiga kali teguk dan dibaca sebelum setiap teguk : Bismillah – dan selepas setiap teguk : Alhamdulliah.

* Minum senafas dan tidak bernafas dalam bekas minuman yang diminum melainkan semasa menghisap.
* Memberikan kelebihan air kepada orang yang lebih mulia kedudukannya baik di sisi di kiri atau di kanan baginda dan bersabda kepada orang yang tidak mendapat air bahwa sunat mengutamakan (orang yang lebih mulia kedudukannya).

* Tidak menyukai air susu dan madu diminum bersama karena tidak melambangkan tawaddak.
* Pemalu dalam perihal makan – tidak meminta kepada keluarga baginda makanan/minum – tetapi kalau diberi, baginda makan atau minum. Kadangkala bangun sendiri untuk mendapatkan makanan/minuman.

Mar
16

Ta’lim Wat Ta’lum adalah belajar dan mengajar

Maksud dan tujuannya adalah memasukan Nur Kalamullah ( cahaya ilmu dan pemahaman ayat Al Quran )

Keutamaan Ta’lim Wat Ta’lum :

  1. Mendapatkan sakinah ketenangan jiwa.
  2. Dicucuri Rahmat oleh Allah Swt.
  3. Dikelilingi para malaikat bershaf-shaf sampai di Arsy Allah Swt.
  4. Nama kita di bangga – banggakan oleh Allah Swt di hadapan majelis para malaikat.
  5. Menghancurkan 100 majelis lalai bila dilakukan di rumah.

Kerugian apabila tidak di laksanakan Ta’lim Wat Ta’lum :

  1. Beramal dengan mengikuti hawa nafsu.
  2. Tidak mengetahui nilai akhirat.
  3. Syetan akan berdakwah dalam rumah kita sehingga maksiat akan merajalela

Adab – adab Taklim terbagi menjadi dua ,yaitu :

  1. Adab Zhahiriah.
  2. Adab Batiniah.

1.Adab Zhahiriah ,diantaranya :

    • Berwudhu lalu duduk rapat-rapat dengan posisi Iftirasy menghadap qiblat denga tawajjuh kepada Allah Swt dengan memekai wangi-wangian.
    • Membaca dengan jelas dan teratur bila perlu diulangi sampai tiga kali dan tidak menambah dengan kata-kata sendiri.Bacalah apa yang tertulis dalam kitab Fadhail A’mal.bila belum mampu membaca dengan betul ayat-ayat Al Quran atau Hadist-Hadist Rasulullah Saw,cukup membaca artinya atau Mafhum hadistnya saja.
    • Apabila disebut nama dari Rasulullah Saw,disunnahkan bershalawat,apabila nama sahabat r.a disebut ucapkanlah radiallahu anhum dan apabila disebut nama orang-orang yang di laknat maka ucapkanlah laknatul alaihi.
    • Bila mendengar kabar gembira tentang pahala dan surga ucapkanlah tasbih ,tahmid dan takbir.semoga Allah Swt menganugrahkan kepada diri kita.
    • BIla mendengar tentang adab dan siksaan kita memohon perlindungan dari Allh Swt dengan berisgtigfar atau mengucapkan “na uudzubillaahi mindzalik”.

    • Tidak meninggalkan majelis sebelum selesai setan berusaha bagaimana kita berhajat keluar padahal pada saat itu Allah Swt akan menganugrahkan Hidayah,jika terpaksa meninggalkan majelis cukup menggunakan isyarat mengangkat telunjuk untuk berwudhu atau buang air kecil,dua jari untuk buang air besar dan mengangkat lima jari untuk keperluan khusus dan tidak akan kembali lagi pada majelis.
    • Buat Jaulah Ta’lim agar pikir manusia di luar masjid bisa berubah.

2.Adab Batiniah, diantaranya :

  • Taz’him Wal Ihtiram : Mengagungkan dan memuliakan
  • Tashdiq WalYaqin : Membenarkan dan meyakini.
  • Ta’atsur Bil Qalbi : Berkeswan di dalam hati.
  • Niyatul Amal Wattabligh : Niat mengamalkan dan menyampaikan
Mar
15

Alhamdulilah, senang sekali bisa hadir dalam malam markaz di Bandung kemarin dan juga malam musyawarah di Kebon Jeruk. Memang benar sekali kalo kita sangat dianjurkan untuk bisa hadir dalam malam markaz setiap pekannya atau paling minimal sekali yaitu sekali dalam 1 bulan. Dengan hadir di malam markaz, banyak nashihat-nashihat yang insya Allah kita dapatkan dari orang-orang yang telah lama berkecimpung dalam usaha da’wah.
Berikut kami tuliskan bayan pak Cecep Firdaus pada saat malam markaz Antapani, pekan kemarin dan juga bayan ketika musyawarah markaz di BonJer. Semoga dapat mengambil hikmahnya..

Nasihat maulana Umar untuk dapat mengeluarkan jama’ah da’wah sebanyak-banyaknya, yaitu:

Pertama, 2 orang lama membawa 8-10 orang baru keluar 4 bulan IPB

Kedua, 2 orang lama membawa 8-10 orang baru untuk keluar 4 bulan dalam negri

Ketiga, kumpulan orang lama bersama-sama keluar 4 bulan negri jauh

Keempat, mempersiapkan para kaum wanita untuk ijtima’ (di Bangladesh, ketika ijtima’ tahun lalu ada 100 ribu wanita yang bersedia puasa senin-khamis dan 3 hari tengah bulan untuk menghadapi ijtima’)

Kelima, orang lama meluangkan waktunya 2bulan untuk khidmat di markaz nizhamuddin

orang berilmu itu dalam bahaya apabila ia belum beramal
orang beramal dalam bahaya apabila ia belum ikhlash
seorang maulana menambahkan dalam bayannya, orang yang ikhlash juga dalam bahaya, karena ia akan berada dalam incaran syaithan sehingga hilang keikhlashannya

seorang kaya mengambil anak angkat dari keluarga yang miskin. Maka anak ini dipelihara dengan baik. Diberi makan, diberi pakaian yang bagus. Setelah itu ia disekolahkan hingga menjadi sarjana dengan gelar yang tinggi. Lalu ia diberikan perusahaan untuk dikelola. Suatu saat, sang ayah (yang kaya tadi) telah tiba ajalnya. Maka ia memanggil anak angkatnya tadi. Tapi ketika itu sang anak sedang mendapat kerjaan yang penting yang bisa rugi jika ditinggalkan. Maka ia tidak memenuhi panggilan ayah angkatnya. Maka sang ayah berkata, “Anak macam apa ia. Padahal ia adalah anak dari keluarga miskin. Aku angkat ia jadi anakku, ku sekolahkan, kunikahkan ia, ku beri perusahaan besar….” Ketika ia menyebut seluruh kebaikannya, maka Allah azza wa jalla mencabut nyawanya. Maka habislah seluruh amalnya itu…

Sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimana ikhlash itu..? Maka Rasulullah menjawab,’Aku tidak tahu. Mari kita bertanya pada Jibril.’ Maka Rasulullah saw bertanya, ‘Bagaiamana ikhlash itu wahai Jibril?’ Jibril a.s menjawab, ‘Aku tidak tahu. Mari kita tanya langsung pada Allah.’ Maka Allah menjawab, ‘Ikhlash itu adalah rahasia Aku.’

Karkun-karkun di Indonesia banyak mengeluh karena mereka punya banyak masalah yang tidak selesai-selesai. Selesai satu maka datang yang lain. Maka Maulana Ahmad Lat berkata seperti yang telah dikatakan oleh suatu keterangan bahwa barang siapa yang memperbaiki hubungan nya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan makhluk. Tapi kalo kita tidak memeperbaiki hubungan kepada Allah, maka jangan harap segala permasalahan kita akan diselesaikan oleh Allah azza wa jalla.

Maulana sa’ad bertanya kepada pak Cecep, “sudah berada ditingkatan manakah karkun-karkun di Indonesia..?” Maka pak Cecep tidak dapat menjawabnya. Maka Maulana Sa’ad berkata bahwa ada 4 tingkatan manusia.


Tingkatan pertama,
orang yang menolak sama sekali terhadap usaha da’wah. Berarti orang ini telah ingkar terhadap Al qur’an dan As sunnah karena dalil-dalil usaha da’wah ada smuanya di dalam Al qur’an dan hadits.

Tingkatan kedua, orang yang senang sekali dengan usaha da’wah. Mendukung dan setuju dengan usaha da’wah. Tapi apabila diajak untuk keluar di jalan Allah azza wa jalla, maka ia berkata nanti dulu atau belum siap.
Tingkatan ketiga,
orang yang senang dengan usaha da’wah, ikut bersama-sama keluar di jalan Allah azza wa jalla. Tetapi ketika dihadapkan oleh suatu pilihan ketika datangnya takaza agama dengan takaza dunia, maka ia mendahului takaza dunianya.
Tingkatan keempat, orang yang senang dengan usaha da’wah, ikut bersama-sama keluar di jalan Allah azza wa jalla, dan ketika dihadapkan antara 2 pilihan, takaza dunia atau agama maka ia memilih takaza agama lebih dahulu dan mengorbankan keduniaannya.

Masya Allah, bersyukur kita karena Indonesia diberi kesempatan untuk mengadakan ijtima’ dunia pada bulan Juli 2009 di Jakarta. Banyak negara yang minta izin untuk mengadakan ijtima’ dunia, tapi tidak diizinkan oleh para masyaikh. Target pengeluaran jama’ah untuk Indonesia yaitu mengeluarkan sebanyak lebih kurang 13.240 jama’ah. Maka ia adalah tanggung jawab kita semua untuk dapat mensukseskan ijtima’ ini. Untuk itu diharapkan dari 1 halaqah dapat mengeluarkan 1 jama’ah 40 hari dan 1 jama’ah 4 bulan. Jama’ah gerak 4 bulan dapat mengeluarkan 1 jama’ah 4 bulan dan 3 jama’ah 40 hari. Dan jama’ah 40 hari dapat mengeluarkan 1 jama’ah 4 bulan dan 1 jama’ah 40 hari.

Insya Allah Siap Amal……………………

dre

Mar
10

Peradaban/Akhlak Rasulullah S.A.W.
(Dipetik daripada Kitab Ihya Ulumiddin – Karya Hujjatul Islam Imam Muhammad bin Abu Hamid Al-Ghazaly )

Rasulullah SAW merupakan seorang yang banyak merendahkan diri dan berdoa ke hadhirat Allah SWT agar menganugerahkan baginda dengan kebaikan adab dan kemuliaan budi pekerti/akhlak. Antara doa baginda yang bermaksud :-
‘Ya Allah Ya Tuhanku, perbaikkanlah kejadianku dan akhlakku’
Maka Allah SWT menganugerahkan baginda Al –Qur’anulKariem yang mengandungi pengajaran mengenai adab dan kesopanan. Aisyah r.a. pernah menyamakan akhlak Rasulullah SAW dengan Al-Qur’an (Riwayat Muslim – Saad Hisham)
Mafhum Firman Allah SWT:-
‘Dan Engkau (Wahai Muhammad) sesungguhnya mempunyai akhlak yang tinggi’ (Surah Al-Qalam : 4)
Rasulullah SAW adalah manusia yang :
• paling penyabar, paling berani, paling adil dan paling menjaga diri.
• Tiada sekali-kali tangan baginda menyetuh tangan wanita yang tidak dimilikinya selaku sahaya atau ikatan perkahwinan atau wanita itu muhrimnya.
• Mengasihi umat dan menyayangi ahli bait dan sahabatnya.
• Adalah baginda manusia yang pemurah hati, suka bersedekah apa yang ada pada dirinya, makanannya hanyalah tamar dan syair. Selebihnya adalah untuk jalan fiisabilillah
• Menampal sandalnya, kainnya dan mengurus kepentingan keluarganya.
• Sangat pemalu – tidak tetap pandangannya pada muka seseorang
• Suka memperkenankan undangan sahaya dan orang merdeka
• Menerima hadiah walaupun seteguk air/sepaha arnab dan membalas hadiah berkenaan.
• Tidak memakan harta sedekah
• Tidak sombong
• Memarahi dan melaksanakan kewajipannya atas dasar kebenaran
• Tidak pernah meminta pertolongan orang musrik
• Suka berpuasa – mengikat batu pada perutnya apabila lapar – jika makan tidak pernah kenyang
• Paling beradab dalam makan – Antaranya – makan tanpa bersandar dan tanpa meja – saputangannya adalah kedua telapak kakinya.
• Lebih mengutamakan orang lain daripada diri baginda sendiri.
• Tawaddhak dan Tenang
• Tidak terganggu dengan urusan dunia
• Menyukai jubah bulu/syamlah
• Bercincin perak di jari manis kanan dan kiri
• Mengunjungi orang sakit
• Berkenderaan kaldai dan unta
• Menyukai bau-bauan
• Duduk dan makan bersama orang-orang miskin
• Berbuat baik dengan kaum bangsawan
• Memuliakan orang-orang berakhlak
• Bergurau/tersenyum dan tidak mengatakan kecuali yang benar.
• Tidak takut kepada raja kerana kerajaannya
• Ummi dan hafiz/paling fasih/merdu bacaan Al-Qur’an/Lughah Arab
• Tidak pernah mencaci, memaki hamun, mengutuk, memfitnah, mengumpat, menganiaya, hasad dengki, tamak haloba dll.
• Tidak memukul kecuali di atas jalan Allah SWT, Tidak berdendam, Tidak memutuskan silaturrahim
• Paling kuat ibadatnya, paling berilmu/arif, paling banyak taubat dan syukurnya dll.
• Memuliakan tetamu dan jiran tetangga
• Berkinayah/berdiam diri dengan tampak tanda tidak menggemari perkara yang tidak disukainya (makruh contohnya)
• Pembela wanita
• Suka menasihati
• Dan banyak lagi.
Maksud Sabda Rasulullah SAW :
a. ‘Demi Allah yang nyawaku dalam kekuatanNya! Tiada masuk syurga kecuali orang yang berakhlak mulia/baik”
b. ‘Bahawa Allah mengelilingkan Agama Islam dengan akhlak/budi pekerti yang mulia dan amal perbuatan yang baik’
Mafhum Firman Allah SWT :
1. ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan supaya dijalankan keadilan dan berbuat kebaikan’ (Surah An-Nahl :90)
2. ‘Maka dengan rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlemah-lembut dengan mereka dan sekiranya engkau berkasar dan bengis/pemarah, tentulah mereka akan melarikan diri dari kelilng mu’
Maksud Sabda Rasulullah SAW:-
‘Aku mewasiatkan engkau supaya bertaqwa kepada Allah, bercakap benar, menepati janji, menunaikan amanah, meninggalkan perbuatan khianat, menjaga jiran tetangga, mengasihani anak yatim, lemah lembut perkataan, memberi salam, bagu amal perbuatan, pendek angan-angan, harus kuat keimanan, memahami Al-Qur’an, mencintai akhirat, merasa gusar mengenai hisab amalan dan merendahkan diri. Dan aku melarang engkau, memaki hakim atau mendustakan orang yang benar atau mentaati orang yang berdosa atau mendurhakai imam yang adil atau merosakkan muka bumi. Dan aku mewasiatkan engkau agar bertaqwa kepada Allah pada setiap batu, kayu dan tanah. Dan engkau datangkan taubat bagi setiap dosa. Taubat rahsia dengan rahsia dan yang terang dengan terang.’
Ali r.a. berkata :
‘Alangkah hairannya orang muslim! Datang kepadanya saudaranya muslim yang memerlukan. Lalu ia melihat dirinya tidak berhak membuat kebajikan kepada saudaranya itu. Sekiranya ia tidak mengharapkan pahala dan tidak takut kepada siksaan, sesungguhnya, sepatutlah ia bersegera kepada akhlak yang mulia kerana akhlak yang mulia itu adalah di antara penunjuk kepada jalan bebas/pelepasan (dari dosa umpamanya)
Antara doa baginda yang masyhur (mengenai peradaban/akhlak mulia) :-
‘Ya Allah Ya Tuhanku, Perlihatkanlah kepadaku kebenaran itu kebenaran, lalu aku mengikutinya. Perlihatkanlah kepadaku kemungkaran dan anugerahilah aku menjauhkan diri daripadanya. Lindungilah aku daripada apa-apa yang meragukan lalu aku mengikuti hawa nafsuku, tanpa petunjuk dari Engkau. Jadikanlah hawa nafsuku patuh mentaatiMu. Ambillah kerelaan diri Engkau dari diriku kepada keafiatan. Dan tunjukkanlah aku kebenaran yang aku perselisihkan padanya, dengan keizinan Engkau. Sesungguhnya Engkau menunjukkan (jalan) siapa yang Engkau kehendaki atas jalan yang lurus
Adab Makan Rasulullah SAW
• Rasulullah SAW menyukai dlafaf – makanan yang banyak tangan memakannya
• Membaca doa yang bermaksud :- ‘Dengan nama Allah, Ya Allah Ya Tuhanku, jadikanlah hidangan ini nikmat yang disyukuri yang sampai nikmat syurga ke atas nya.’
• Makan cara hamba – semasa duduk makan, baginda merapatkan antara kedua lututnya dan antara kedua tapak kakinya – tapak kaki kanan di atas tapak kaki kiri.
• Tidak memakan makanan yang sangat panas kerana tiada barakah diumpamakan memakan api.
• Tidak memakan dengan dua anak jari kerana demikian adalah cara makan syaitan.
• Menyukai kueh faludzaj – ramuan – minyak samin, madu lebah, tepung gandum.
• Menyukai roti syair, mentimun dan ruthab (kurma yang belum kering) di cecah dengan garam.
• Menyukai anggur dan semangka dimakan bersama roti dan gula atau ruthab.
• Memakan ruthab dengan tangan kanan dan biji di tangan kiri baginda diberi makan kepada kambing yang lalu lalang di tempat baginda makan.
• Memakan anggur dengan memegang tangkainya sehingga air anggur kelihatang pada janggutnya seperti benang mutiara.
• Menyukai susu dengan tamar (al-athyabin – dua yang terbaik)
• Menggemari daging – penghulu makanan di dunia dan di akhirat – khasiat menguatkan pendengaran.
• Menyukai roti bekuah dengan daging dan buah labu dan bersabda bahawa labu itu adalah pohon Nabi Allah Yunus a.s. Pernah menyarankan Aisyah ra memasak gulai dengan membanyakkan labu – akan menguatkan hati orang yang berduka
• Menyukai daging burung (tetapi tidak pula ikut menangkap burung berkenaan)
• Tidak menundukkan kepala semasa memakan daging burung tetapi mengangkatkan daging ke mulutnya dan menggigitnya.
• Menyukai roti dengan minyak samin.
• Menggemari daging kambing – bahagian lengan dan bahu
• Kurma madinah (al-ajwah – berasal dari syurga) – penawar racun dan sihir – adalah antara yang paling digemari di kalangan tamar.
• Sayur-sayuran yang digemari baginda pula ialah al-handaba, al-badzaruj dan al-hamqa’/ar-rajlah.
• Tidak menggemari bahagian daging spt. buah pinggang, zakar dan biji zakar, ghudad, darah, hempedu dll.
• Tidak menggemari bawang putih, bawang merah dan daun bawang prei (al-kurrats)
• Tidak pernah mencela makanan – kalau disukai, dimakan – kalau tidak disukai, ditinggalkan.
• Tidak menggemari dhab.
• Suka menghabiskan sisa makanan dengan anak jarinya – makanan yang penghabisan banyak barakahnya.
• Menjilat sisa makanan pada anak jari – yang tidak diketahui makanan mana yang paling berkat. Tidak menyapu dengan sapu tangan.
• Selesai makan – dibaca ‘Segala puji-pujian bagi Allah. Ya Allah Ya Tuhanku, bagiMu segala pujian. Engkau anugerahkan makanan, maka Engkau anugerahkan kekenyangan. Engkau anugerahkan kepuasan (kehilangan haus). Bagi Engkau segala pujian yang tidak dimungkiri keutamaannya, yang tidak ditinggalkan dan yang diperlukan kepadanya’
• Membasuh tangan dan menyapu lebihan air ke muka. Minum dengan tiga kali teguk dan dibaca sebelum setiap teguk : Bismillah – dan selepas setiap teguk : Alhamdulliah.
• Minum senafas dan tidak bernafas dalam bekas minuman yang diminum melainkan semasa menghisap.
• Memberikan lebihan air kepada orang yang lebih mulia kedudukannya samada di kiri atau di kanan baginda dan bersabda kepada orang yang tidak mendapat air bahawa sunat mengutamakan (orang yang lebih mulia kedudukannya)
• Tidak menggemari air susu dan madu dibawa bersama kerana tidak melambangkan tawaddak.
• Pemalu dalam perihal makan – tidak meminta kepada keluarga baginda makanan/minum – tetapi kalau diberi, baginda makan atau minum. Kadangkala bangun sendiri untuk mendapatkan makanan/minuman.
Adab Berpakaian Rasulullah SAW
Kain sarung/selindang/penutup badan/ baju kemeja (qamish)/jubah.
• Menyukai warna hijau dan putih.
• Qaba’ (baju luar) dari kain sundusin.
• Pakaian yang tinggi di atas kedua tapak kakinya, kadangkala setengah betis, kemeja terikat dengan kancing baju – kadangkala baginda membuka kancing itu semasa solatnya. Kadangkala mengerjakan solat dengan berselimut yang dicelup kumkuma.
• Kadangkala memakai kain sehelai/sarung – yang tiada kain lain di atasnya – kadangkala diikatkan kedua hujungnya di antara kedua bahunya. Kadangkala mengimami solat jenazah atau mengerjakan solat di rumah (umpamanya solat malam) dengan cara yang demikian
• Memakai kain bertampal – pakaian cara hamba.
• Mempunyai dua helai pakaian khusus untuk solat Jumaat.
• Mempunyai pakaian hitam tetapi disedekahkan kepada orang – maksud riwayat Ummu Salmah r.a. – terserlah ketampanan/keputihan kulit baginda apabila memakai pakaian hitam.
• Kadangkala mengerjakan solat memakai syamlah – kain bulu hitam.
• Memakai cincin. Kadangkala baginda keluar dan pada cincinnya terdapat benang terikat untuk mengingatkan baginda terhadap sesuatu. Baginda chapkan surat-surat yang dikirim dengan cincinnya supaya penerima surat berkenaan mengenali baginda.
• Memakai qalansuah (kupiah); dengan atau tanpa serban
• Mempunyai serban as-sahab – awan. Diberikan kepada Sayyidina Ali r.a.
• Semasa memakai pakaian baginda berdoa (maksudnya) :- “Segala puji-pujian bagi Allah yang menganugerahkan kpdaku pakaian di mana dengan pakaian ini akau menutup auratku dan aku memperelokkan diriku pada manusia.
• Memakai dengan memulakan sebelah kanan dan membuka pakaian dengan memulakan sebelah kirinya.
• Menyedekahkan pakaian lamanya kepada orang miskin – maksud sabda Baginda – diberikan kerana Allah dan dianugerahkan kebajikan selagi pakaian berkenaan menutup aurat sipenerima samada hidup atau mati.
• Mempunyai tikar tidur dari kulit yang sudah disamak – diisikan kulit kayu kurma yang halus. Panjang lebih kurang dua hasta. Lebar lebih kurang sehasta sejengkal.
• Mempunyai baju ‘aba-ah (baju terbuka depannya, dipakai di atas baju lain) yang dibentangkan/dilipat dua lapis untuk baginda setiap kali berpindah tempat duduk.
Nama bendera : Al-‘Uqab.
Nama pedang perang : Zulfaqar. Lain-lain pedang : Ak-Mikhzam, Ar-Rasub, Al-Qadlib – tangkai pedang dihiasi perak. Tali pedang dari kulit yang disamak. Tiga helai tali dari perak.
Nama busur baginda ialah Al-Katum, tempat pananannya bernama Al-Kafur.
Nama untanya : Al-‘Udl-ba,Nama kudanya : Al-Duldul, Nama kaledainya : Ya’fur. Nama kambingnya: ‘Ainah.
• Mempunyai tempat bersuci/berwuduk dan minum dari tembikar. Ramai anak-anak kecil mendapat barakah dari tempat ini.
Sifat Pemaaf/Kemampuan Membalas Rasulullah SAW
• Tidak lekas marah, pemaaf (walaupun dicaci, ditohmah, dimaki dll)
• Adil dalam pembahagian harta rampasan
• Tidak memarahi orang yang cuba membunuhnya malah menasihati pula. Cubaan pembunuhan ini berlaku dalam pelbagai cara, antaranya tikam-curi semasa perang, menghempap batu semasa baginda berjalan dan diberikan racun dalam daging kambing oleh perempuan Yahudi. (Baginda melarang sahabatnya membunuh perempuan berkenaan)
Pernah disihir oleh lelaki Yahudi dan atas bantuan Jibril a.s. , sihir berjaya
dipulihkan dari sumur Zarwan. Tidak pernah baginda mengungkit
kembali perkara berkenaan walaupun di hadapan Yahudi berkenaan.
Pernah baginda dihunuskan pedang dan ditanya “Siapakah yang mencegah engkau dariku?” dan baginda menjawab “Allah”. Maka jatuhlah pedang tersebut dan baginda mengambilnya dan bersabda “Siapakah yang mencegah engkau dariku?” Lelaki itu menjawab “Adalah engkau hendaknya sebaik-baik orang yang mengambil kebajikan” Baginda menjawab “Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan Melainkan Allah dan aku adalah Rasulullah” Lelaki itu menjawab “Tidak, hanya aku tidak akan memerangimu. Aku tidak akan bersamamu dan aku tidak akan bersama kaum yang memerangimu” Lantas Baginda melepaskan lelaki berkenaan dan mendekati sahabat-sahabatnya dan bersabda : “Aku datang kepada kamu dari orang yang terbaik antara manusia”
Perkara-Perkara yang tidak digemari Rasulullah SAW
Seorang laki-laki masuk ke tempat baginda SAW dengan memakai kain yang berwarna kuning (pekat spt. warna api). Apabila lelaki berkenaan beredar dari situ, baginda mengatakan kepada sahabatnya menyuruh lelaki berkenaan tidak lagi memakai pakaian berwarna sedemikian.
• Seorang Arab Badwi telah membuang air kecil dalam masjid di hadapan baginda SAW. Para sahabat cuba mencegah tetapi baginda bersabda: “Jangan kamu putuskan air kecilnya dan baginda bersabda kepada sahabatnya bahawa perkara ini tidak harus berlaku di dalam masjid.
• Dll.
Kemurahan Hati Rasulullah SAW
Sayyidina Ali r.a. berkata : “Adalah Nabi SAW manusia yang bermurah tangan, manusia yang berlapang dada, manusia yang sangat benar pembicaraan, manusia yang sangat menepati janji, manusia yang teramat lemah-lembut kelakuan dan manusia yang sangat memuliakan kekeluargaan. Barangsiapa melihat Nabi SAW dengan tiba-tiba, nescaya takut kepadanya. Dan barangsiapa bercampur-baur dengan Nabi SAW dengan mengenalnya, nescaya mencintainya. Orang yang menyifatkan Nabi SAW berkata : “Tidak pernah aku melihat sebelumnnya dan sesudahnya orang seperti Nabi SAW”
Seorang lelaki telah meminta sesuatu dari baginda dan diberikan seekor kambing dan lelaki itu kemudiannya mengajak semua rakan-rakan dari kaumnya memeluk Islam.
Baginda tidak pernah berkata “tidak” apabila diminta sesuatu. Baginda tidak takut kepada kemiskinan.
Baginda diberikan 90,000 dirham dan dibahagi-bahagikannya sehingga habis.
Pernah baginda diminta sesuatu dan baginda tiada apa-apa tetapi demi memenuhi kehendak si peminta, Baginda SAW menyuruhnya membeli secara berhutang atas nama baginda dan baginda berjanji untuk melunaskannya.
Keberanian Rasulullah SAW
Sayyidina Ali r.a. berkata “Sesungguhnya engkau melihat aku pada hari Perang Badar. Kami berlindung dengan Nabi SAW dan baginda yang paling terdekat kepada musuh dari kami. Dan baginda pada hari itu di antara manusia yang sangat perkasa”
‘Imran bin Husain berkata : “Tiada Rasulullah SAW menemui suatu kumpulan tentera, melainkan beliaulah orang yang pertama memukulnya”
Para sahabat berkata bahawa Nabi SAW sangat kuat pukulannya. Tatkala baginda dikepung oleh kamu musyrik, baginda turun dari kudanya lantas berkata “Aku ini Nabi, tidak dusta. Aku ini Putera Abdul Mutalib”
Maka tiada seorangpun yang dilihat pada hari itu yang lebih berani dari Nabi SAW.

Kerendahan diri Rasulullah SAW
Baginda SAW tidak pernah menghampakan jemputan sesiapa jua samada orang sakit, menghantar jenazah atau makan bersama-sama dengan hamba/sahaya. Baginda berpakaian ringkas. Baginda membenci perbuatan orang berdiri hormat apabila baginda lalu.
Baginda suka memberikan salam kepada anak-anak kecil/muda. Seorang lelaki yang gementar melihat wajah baginda terus ditenteramkan oleh baginda dengan bersabda “Permudahkan (urusan) mu, aku bukannya raja. Aku hanya putera, seorang perempuan Quraisy, yang memakan daging kering”
Baginda sentiasa duduk bersama-sama dengan sahabatnya dan tidak pernah membeza-bezakan sesiapapun di antara sahabatnya walaupun baru dikenalinya. Baginda SAW begitu gemar berbual-bual mengenai pelbagai sabjek dari perkara-perkara bersabit akhirat hinggalah dunia. Kadangkala baginda hanya tersenyum apabila para sahabatnya membaca syair atau bergurau tetapi segera melarang jika berlaku perkara-perkara haram.
Adab makan baginda juga jelas menunjukkan rasa kerendahan dirinya. Tidak suka bersandar walaupun pernah disuruh Sayyidina Ali r.a. dan tidak pernah bermeja ketika makan – makan cara hamba/sahaya.
Rupa Paras/Sifat Tubuh Rasulullah SAW
Baginda SAW tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, namun apabila berjalan bersama para sahabat, baginda SAW kelihatan lebih tinggi dari mereka. Tetapi apabila baginda berjalan sendirian, baginda nampak sederhana ketinggiannya. Baginda SAW pernah bersabda bahawa orang yang bertubuh sedang dikurniakan banyak kebajikan.
• Warna kulit baginda adalah azharul-laun – putih gemilang bercahaya – tidak bercampur dengan kuning, merah dan lain-lain.
• Keringat baginda seperti mutiara dan berbau lebih harum dari kasturi.
• Berambut ikal yang tidak terlalu lurus dan tidak terlalu keriting. Apabila baginda menyikat rambut, jadilan seakan-akan jalinan pasir. Rambutnya mencecah bahu.
• Uban pada kepala dan janggutnya masing-masing berjumlah 17 helai.
• Wajah baginda adalah wajah yang tercantik malah lebih cantik dan kacak daripada Nabi Allah Yusof a.s. dan disamakan dengan bulan purnama.
• Dahi baginda SAW luas, dan kedua bulu keningnya melengkung (ada yang menyatakan kedua-dua keningnya bersambung) Ruang putih (ablaj) yang kecil di tengah-tengah keningnya seolah-olah perak yang putih bersih.
• Kedua matanya adalah lapang, sangat hitam mata hitamnya. Bulu matanya tebal.
• Berhidung mancung.
• Giginya jarang tersusun dengan baik. Baginda tenang dan bercahaya di wajahnya apabila ketawa atau tersenyum.
• Kedua pipinya adalah menurun, tidak meninggi, tidak bermuka panjang, tidak bermuka bulat. Dipenuhi dengan janggut dan tidak bermisai.
• Lehernya adalah yang terbaik dari semua hamba Allah SWT. Tidak dapat dikatakan panjang atau pendek. Gambarannya seolah-olah cerek perak yang bercampur emas yang berkilauan dalam keputihan perak dan kemerahan emas.
• Berdada lebar/agak sasa – seperti cermin ratanya – seperti bulan putihnya. Tidak berbulu dada kecuali pada sedikit bulu lurus antara dada dan pusat baginda.
• Kedua bahu baginda besar/agak sasa dan terdapat cap kenabian* di antaranya. (Tanda hitam bercampur kuning sedikit)
• Tangan baginda besar/agak sasa dan anak-anak jarinya seolah-olah ranting-ranting perak. Tapak tangan baginda lebih lembut dari sutera dan berbau harum. Apabila tangannya diletakkan di atas kepada anak-anak kecil, nescaya dikenali anak-anak kecil berkenaan bahawa itu adalah baginda SAW menerusi keharuman tangannya.
• Kakinya juga besar/agak sasa.
• Tubuh baginda sederhana besar dan seolah-olah tidak dimamah usia dari baginda muda sehinggalah akhir hayatnya.
• Baginda berjalan seolah-olah menuruni batu besar, melangkah condong dan al-huwaina – berdekatan langkah kaki tanpa berlenggang. Baginda bersabda bahawa rupa paras/bentuk tubuh/budi pekerti/akhlak baginda adalah menyamai Nabi Allah Adam a.s. dan Nabi Allah Ibrahim a.s.
Gelaran-gelaran Rasulullah SAW
• Muhammad, Ahmad, Al-Mahi, Al-‘Aqib, Al-Hasyir, Rasulurrahmah, Raluluttaubah, Rasulumalahim, Al-Muqaffi, Qutsam
• Selain itu Mustaffa dan kebanyakan nama surah-surah dalam Al-Qur’an seperti Toha, Yasin dll.
Mukjizat Rasulullah SAW
• Al-Qur’an yang diturunkan kepada baginda yang ummi tanpa tandingan atau tiruan dari mana-mana pihak sekalipun dan kesempurnaan/rahmat bagi seluruh alam dan makhluk.
• Memecahkan dan mencantumkan bulan.
• Membahagikan makanan yang sedikit kepada jumlah manusia yang sangat ramai di mana semuanya berasa kenyang. (semasa perang dll)
• Mengeluarkan air dari jari-jarinya untuk menghilangkan haus para tentera Islam (hissi)
• Mengeluarkan air dari matair Tabuk dan Al-Hudaibiah – yang dapat diminum kira-kira 1500 orang tentera Islam.
• Melemparkan tanah ke arah musuh dan buta mata musuh.
• Meramalkan kekuatan syiar Islam selepas kewafatan baginda
• Meramalkan pembunuhan ‘Ammar bin Yasir yang membawa perdamaian dua golongan besar kaum muslimin oleh Al-Hasan
• Menerangkan bagaimana seorang lelaki yang berjihad akan menjadi penduduk neraka. Benarlah ramalan baginda kerana lelaki berkenaan kemudiannya telah membunuh diri.
• Melepaskan kuda Saraqah bin Malik yang terbenam.
• Meramalkan pembunuhan As-Aswad Al-‘Ansi yang mendakwa dirinya nabi.
• Nabi SAW keluar di hadapan 100 orang Quraisy tanpa dilihat oleh mereka.
• Seekor unta datang mengadu masalah dengan Nabi SAW dengan penuh merendah diri disaksikan oleh para sahabat baginda.
• Dua pohon kayu yang bercantum dan berpisah atas perintah baginda.
• Arbad bin Qais and ‘Amir bin Ath-Tufail bin Malik, dua orang perkasa yang ditugaskan membunuh baginda SAW sebaliknya mati rentung dipanah petir.
• Ketinggiannya sedang apabila berjalan bersendirian tetapi lebih tinggi apabila berjalan dengan para sahabatnya.
• Pernah cuba diracun dan disihir tetapi dapat dipatahkan.
• Menyapu kambing sehingga banyak susu dapat dikeluarkan.
• Memerintahkan pengisar di rumah Sayyidatina Fatimah r.a. berjalan dengan sendiri.
• Mengubati penyakit mata dan lain-lain penyakit para sahabat dengan meludah, menggosok, mendoakan dll.
• Makanan bertasbih di hadapan baginda SAW
• Al-Barsya yang menolak pinangan Nabi SAW ke atas Ummu Syubaib dengan alasan anaknya berpenyakit sopak benar-benar dijangkiti sopak.

Mar
10
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.